Bank Sentral Perlu Mengembalikan Perempuan di Uang Kertas

Herman Saksono, PhD
4 min readApr 29, 2021

--

Saya dan Sofia Kartika menulis opini Kompas (4/26/2021) tentang desain uang kertas rupiah yang meminggirkan peran penting perempuan dalam pembangunan.

Bank Indonesia perlu memperbanyak potret pahlawan perempuan pada desain uang kertas di masa datang. Saat ini, tujuh dari delapan desain uang kertas rupiah didominasi gambar pahlawan laki-laki. Di sisi sebaliknya, hampir semua bergambar perempuan penari tradisional.

Desain-desain uang kertas Rupiah edisi 2016. Kiri adalah sisi pahlawan, kanan adalah sisi kesenian.

Dengan desain ini, negara menyampaikan pesan tersirat bahwa tugas laki-laki adalah menjadi tokoh, sementara perempuan bertugas menari dan menghibur masyarakat. Bahwa desain uang tahun 2016 ini beredar tanpa banyak kontroversi, justru menegaskan bahwa masyarakat kita telah tanpa sadar mengamini paham jender yang tidak adil.

Walaupun nilai nominal uang lebih utama daripada desainnya, desain menyimbolkan kepedulian negara. Saat ini, perempuan belum mendapat kepedulian yang memadai. Partisipasi perempuan di dunia kerja formal stagnan di 54 persen, tetapi kekerasan terhadap perempuan dan pernikahan dini terus meningkat setiap hari. Artinya, kita perlu dobrakan untuk menyelesaikan permasalahan rumit ini, termasuk memperbaiki pilihan desain uang.

Uang kertas bukan sekadar tinta yang melekat pada kertas serat kapas. Tinta tersebut juga membentuk simbol-simbol yang penting. Tinta yang membentuk ”100 000” membawa simbol yang senilai dengan 1 kilogram cabai rawit merah. Demikian juga tinta yang membentuk gambar laki-laki pahlawan dan perempuan penari tradisional. Mereka menyimbolkan peran perempuan di masyarakat.

Tentu kita harus menghargai BI yang menyertakan keragaman seni Nusantara dalam desain uang. Kita juga harus mengapresiasi para pekerja seni perempuan yang telah memeragakan kesenian tersebut. Namun, kita juga perlu menilik tujuan kesenian tersebut.

Ambil contoh tari gambyong dari Jawa Tengah yang muncul di uang kertas Rp 5.000. Dalam tradisi bangsawan Jawa, tari gambyong digunakan untuk menyambut tamu. Dengan kata lain, uang kertas Rp 5.000 mengusung simbol bahwa peran perempuan itu menyambut tamu dengan gerakan badannya.

Padahal, perempuan Indonesia telah terlibat lebih sentral dalam kesenian, yaitu sebagai pencipta karya seni. Uang kertas bisa menampilkan perempuan pengarang, pelukis, pemusik, atau pencipta tari, seperti dr Bulantrisna Djelantik. Kita juga perlu terus mengangkat tokoh-tokoh perempuan seperti SK Trimurti dan Ruhana Kuddus untuk menegaskan bahwa Indonesia dibangun oleh kerja sama perempuan dan laki-laki.

Adanya desain uang yang tidak memihak perempuan ini tidak berarti BI telah sengaja meminggirkan perempuan. BI adalah korban dari budaya patriarki yang mengalir dalam tiap denyut interaksi sosial kita. Budaya ini mewajarkan laki-laki mendominasi politik dan ekonomi formal, sementara tugas perempuan dibatasi di dapur, melahirkan anak, dan menghibur laki-laki. Tanpa sadar, BI dan masyarakat kita telah meminggirkan perempuan karena budaya patriarki ini sudah lama, turun-temurun.

Oleh karena budaya patriarki mewajarkan pembagian peran jender yang kaku, kita tidak lagi mempertanyakan peran jender. Kita tidak lagi mempertanyakan kerugian yang ditanggung masyarakat akibat minimnya peran laki-laki dalam pengasuhan anak dan sedikitnya peran perempuan di dunia kerja.

Padahal, penelitian McKinsey di tahun 2015 mengatakan bahwa meningkatnya keterlibatan perempuan dalam bisnis akan membawa gagasan dan bakat-bakat baru yang menggenjot profit. Implikasinya, bisnis harus menciptakan lingkungan kerja yang ramah untuk perempuan, termasuk menyediakan cuti haid dan cuti hamil yang memadai serta cuti kehamilan istri untuk suami.

Namun, desain uang ini bukan sekadar masalah simbol, melainkan juga soal sains kognitif. Dalam psikologi sosial, perilaku manusia cenderung meniru sekelilingnya. Manusia, secara alami, lebih termotivasi untuk mengikuti jejak orang yang karakteristiknya mirip dengan diri mereka. Contohnya, riset selama empat dekade menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih mudah mempelajari keterampilan baru jika diberi contoh oleh perempuan yang sukses.

Dengan kata lain, partisipasi produktif perempuan di masyarakat dan dunia kerja bisa bertambah jika kita banyak melihat kiprah produktif perempuan. Memang, memperbanyak contoh bukanlah satu-satunya strategi.

Masyarakat juga perlu mendorong pembagian tugas domestik rumah tangga yang adil antara suami dan istri. Pemerintah dan dunia bisnis harus menciptakan lingkungan kerja yang ramah terhadap perempuan. Aktivis perempuan telah memperjuangkan ini selama puluhan tahun dan kita harus terus mendukung mereka.

Akan tetapi, yang tidak kalah penting adalah menggaungkan contoh kesuksesan perempuan untuk menginspirasi anak-anak bahwa mereka punya pilihan karier yang beragam, mulai dari menjadi tokoh penting di masyarakat hingga menjadi ibu/ayah rumah tangga yang mengasuh anaknya.

BI bisa menggaungkan kesuksesan perempuan dengan redesain uang kertas yang mewakili peran besar perempuan dalam sejarah Indonesia. Redesain ini akan mendobrak paham usang dan sekaligus memenuhi janji kebinekaan di setiap lembar uang rupiah: bahwa Indonesia beragam dalam etnis, suku, dan juga dalam peran jender.

Dengan redesain ini, BI akan menginspirasi generasi muda bahwa kesempatan untuk berkarya di negara ini terbuka luas untuk semua jender. Sekaligus mendukung pelaksanaan pembangunan yang responsif jender.

Herman Saksono, peneliti postdoktoral, Harvard University

Sofia Kartika, pemerhati isu gender dan pembangunan, Tokyo, Jepang

Catatan: sayangnya kebijakan Kompas cuma memperbolehkan satu orang pengarang untuk naskah opini. Akibatnya, artikel hanya menyebutkan nama saya, walaupun peran Sofia sangat penting dalam memberi argumen dan data yang jitu.

Baca di kompas.id: https://www.kompas.id/baca/opini/2021/04/26/bank-sentral-perlu-mengembalikan-perempuan-di-uang-kertas/

--

--

Herman Saksono, PhD

Assistant Professor at Northeastern University. My research is in digital health equity. Website: hermansaksono.com